Catatan Tahun Baru

Sesuatu yang mungkin ramai tidak sedar, apatah lagi tahu, saya sangat tidak prolifik tahun lalu.

Cerpen terakhir yang saya tulis/terbit tahun lalu adalah pada bulan Mei 2011. Selepas itu saya tidak berjaya menyudahkan satu pun cerpen baru. Cerpen-cerpen yang terbit seterusnya merupakan cerpen-cerpen dalam simpanan; sama ada yang sudah lama dihantar kepada penerbitan dan baru terbit, atau juga yang lama terperuk dan baru dihantar. Malah, novel Bumi Lestari yang terbit pada Oktober 2011 sebetulnya ditulis setahun sebelumnya sementelah ia dihantar untuk penilaian HSKU 2010.

Sesuatu berlaku bermula Mei 2011. Sesuatu itu membingungkan saya, memutar cara saya memandang pelbagai perkara terutamanya hal-hal asas berkaitan kewujudan, agama, diri dan lain-lain lagi. Dengan fikiran yang belum tersusun ketika itu, saya tidak dapat menulis dengan baik. Secara peribadi, apabila menulis, saya perlu menyelesaikan dahulu keributan mental yang tidak tampak, agar yang tertumpah di kertas kelak murni dalam bentuk zahirnya. 

Saya mencuba banyak kali, tetapi saya banyak kali juga tersangkak setelah menyoal diri - tentang kejujuran, tentang tahap ilmu yang dimiliki, tentang apakah benar yang dimiliki itu ilmu atau sekadar maklumat, tentang tanggungjawab dan tentunya tentang tujuan menulis karya sastera.

Sepanjang tempoh bingung itu, saya bersyukur kerana Tuhan mempertemukan sekaligus merapatkan saya dengan sebilangan penulis mapan yang tidak lokek apatah lagi jemu melayan kebingungan saya, membetulkan juga mengingatkan kembali tentang niat dan aspirasi sebagai penulis. Lebih penting, mereka banyak mendorong saya bermuhasabah dan mencari ilmu. Saya lebih mengenali sosok peribadi mereka, dan semakin memahami mengapa karya-karya mereka yang saya baca selama ini sedemikian rupa. Begitulah, kata mereka, apabila kita mengukuhkan bekal di dada, yang lain-lain akan datang sendiri.

Namun, sepanjang tempoh bingung itu juga, entah mengapa, saya menjadi renggang dengan buku-buku sastera. Novel-novel Barat kontemporari yang saya baca dengan setia beberapa buah sebulan tidak lagi ingin saya sentuh. Adakalanya saya beli sahaja novel-novel itu hanya kerana saya tidak mahu meninggalkan sesuatu yang saya akrabi sebelumnya. Saya berjinak-jinak, sebelum mabuk, dengan buku-buku dan artikel-artikel lain yang bersifat ilmiah, mendasar dan mendalam.

Saya mengadu kepada seorang penulis yang lebih senior, yang saya anggap bagai abang. Saya tekankan padanya, saya ini penulis; jikalau pun saya jatuh cinta dengan falsafah Islam misalnya, saya masih harus menulis kreatif. Beliau mendengar, lalu memberi analogi mudah. Katanya, "apabila kita sudah mendapat lampu yang cahayanya lebih terang, lampu yang malap itu tidak akan lagi menarik perhatian kita."

Ouch. Nampaknya selera saya selama ini bukanlah bagus pun. Saya belum meladeni apatah lagi menghayati karya-karya sastera dan persuratan yang sama terang dengan apa yang baru saya jumpai dan berjinak-jinak terokai. Satu peringatan menyakitkan, tetapi mencerahkan.

Maka buat seketika, saya 'meninggalkan' karya-karya sastera. Perkembangan baik Cabaran Membaca Goodreads di mana saya memberi komitmen untuk membaca 60 buah buku pada tahun 2011 statik pada angka 50 lebih. Sukar sekali menghabiskan sebuah buku, kerana apa yang ingin saya baca dan dalami pasa suatu-suatu masa tidak terdapat dalam sebuah buku sahaja, dan bukan melalui buku sahaja. Artikel, makalah dan lain-lain bahan bacaan eceran, walau setebal mana pun, bukanlah dikira sebagai buku. Tetapi saya memujuk diri.

Hanya baru-baru ini, saya dapat kembali kepada kegilaan lama itu. Namun jika sebelum ini saya membaca novel-novel sebegitu untuk mempelajari teknik terutamanya pelukisan emosi dalam karya, kini saya membacanya untuk lebih memahami jiwa Kebudayaan Barat. Hanya apabila kita mengenali sesuatu, kita akan bijak menyaringnya, inshaallah.

Fikiran yang dulunya berkesiuran kini lebih tersusun, meski tidaklah sempurna. Cinta saya kepada sastera kembali mekar, malah kembangnya melebihi rasa sebelum ini. Cinta ini semakin dibumbui dengan tanggungjawab serta komitmen yang lebih berat, namun inshaallah, saya terima dengan redha dan rela.

Alhamdulillah :)

But God knoweth, and ye know not.
[Holy Qur'an; 2: 216] 

Of Being An Engineer and A Writer Part II

My share of 20 free articles from NY Times on my personal PC at home has been fulfilled. I think I have a remaining allocation of two more articles on the PC in the office. On the iPad, well, it's untouched. But my iPad is now the family's public property so I don't really use it anymore apart from checking office emails, IF and only if I must. Anyway, since there's one more week to go until February, I decided to venture to The Washington Post.

I saw the article on Abraham Verghese (Cutting for Stone) about his life in writing a few days ago, when I was reading another article in the Books section. I have somewhat a 'thinning' patience when it comes to western authors creative thoughts and process these days but after a couple of articles related to writers and writing shared and discussed among friends over the weekend, I realized that even though their problems are not our problems, there are things about the craft and art of writing that we can learn from the West. As long as we know which are appropriate and which are not. (How to know? Oh well, that calls for a separate entry but for now it is suffice to say, that calls for knowledge)

Anyway.

Verghese is a physician, and he claimed that only by having a consuming day-to-day job, is he able to steal time to write. Besides, he said, only by engulfing oneself in something one truly love (a worthy, fulfilling career) that one would be able to be passionate about writing. Your day job, according to Verghese, gives you things to write about.

I couldn't agree more. I think that is exactly the reason I am very very very reluctant to part with my day job. Well, two main reasons are purely financial (my college education was paid for by the company I work for, and not having to think about how to pay the bills by the end of each month is a blessed perk), but ultimately, I consider my engineering career as an escapade. 

It is not unlike that I am in reality a writer; when I leave my writings at 8 o'clock in the morning, I know I have 8 hours to contemplate and subconsciously rearrange what I have written. When I return to my writing desk after nightfall, I know I am ready to get the real work done. 

With that, I am humbly grateful.

So which of the favors of your Lord would you deny?
[Holy Quran; 55:21]

Of Being An Engineer and A Writer

A quarter to 12 noon today, I received a text: "Sis, are you busy? Can we have an impromptu date in Kino?"

It was from a former junior from my boarding school days. I didn't know him back then; as usual I blamed anti-social behavior on the academic over-ambition. Somehow we met later as fellow writers and have kept in touch since, most probably due to our similar background: engineering students turned (we hope) literary writers.

Anyway, I said yes. We met in Kino, bought some books (this is why I love-hate meeting up friends in book stores) then sat down for lunch. I asked him about work (well, he was in KLCC before lunch hours) and he told me that he just quit his engineering job and will start as a book editor in an independent publishing house soon.

I was shell-shocked.

"Come on," I said to him, "it hasn't even been a year since you practice engineering! Trust me, if you give it time, you'll get attached to it and would be reluctant to leave it."

"Well, I don't want to get attached to engineering. I have never wanted to be an engineer in the first place. I was ready to be in the art stream when I was 16 -"

"Then boarding school happened?" I interjected.

He nodded.

"I still think you should give engineering a try. It's fun, it helps with the writing." (Me being a typical know-it-all big sister)

He shrugged and I decided not to push it.

I would not say that I understand, because I do not, really. I am not in his shoes; according to him, his workload was too much to handle. Besides, he had no time to write any more. I did tease him, "make sure you write when you're an editor and not just spending time reading other people's writings!"

But I did recall when I started as an engineer almost two and a half years ago; I wanted to give up engineering as soon as I could as well. I hated everything; the job, the workplace, the office politics, the having-to-get-up-at-six-in-the-morning, etc. But as I grow technically and professionally (tougher) in my career, I discovered and still am discovering things that might not be possible if I were to leave my current field.

It might not help with the writings per se; but it does help me grow as a human being in my quest for the Higher Truth. 

Pewaris Rahimidin Zahari

Lama sebelum genre Sastera Islami diisi oleh novel-novel yang menampilkan ustaz-ustaz soleh yang menjadi impian gadis sebagai suami serta ibu mertua sebagai calon menantu, Rahimidin Zahari terlebih dahulu memperkenalkan kita kepada Ustaz Muhammad Bagia Shaif bin Haji Muhammad Al-Peringati lewat novelnya, Pewaris (terbitan Fajar Bakti; 1995).

Novel ini mengambil latar desa Padang Rombakan, sebuah kampung yang dikelilingi desa-desa yang amat dekat dengan zaman anak-anak saya di Tanah Serendah Sekebun Bunga - Bukit Marak, Pauh Lima, Jelawat, Gunung dan Peringat. Ustaz Bagia baru pulang setelah sedasawarsa belajar agama di Tanah Hijaz; dihantar ayahnya sebagai memenuhi amanat datuknya dalam usaha memastikan kesinambungan institusi pondok yang diasaskan tuan guru tersohor itu.

Namun sebaik menjejak kaki ke Padang Rombakan, Ustaz Bagia terkesan dengan kawasan pemondokan yang terbiar dan tidak lagi diimarahkan. Ayahnya sendiri sudah menjadi imam di masjid kerajaan, manakala bapa saudaranya, Haji Abdul Rahman, pula telah berpatah arang dan berkerat rotan dengan adiknya Haji Muhammad lalu membina surau sendiri dengan makmum seramai 20 orang.

Di sinilah kewibawaan Ustaz Bagia bermula dan terserlah. Beliau tekad menghidupkan kembali institusi pondok warisan nendanya. Beliau mengajar agama, tetapi pada masa yang sama mengusahakan ternakan ikan air twar, menternak ayam dan itik serta becucuk tanam bersama-sama anak-anak muridnya sebagai ikhtiar hidup. Pada waktu malam, beliau menulis kitab, sebagai tinggalannya pada masa hadapan.

Perwatakan Ustaz Bagia tidak ada bezanya dengan ustaz-ustaz dalam novel-novel cinta Islami yang melambak di pasaran pada masa ini. Namun istimewanya Ustaz Bagia, beliau lebih sibuk dengan hal-hal lebih besar seperti berikhtiar menyatukan kembali keluarganya yang berpecah-belah daripada menelah hati budi ustazah kampung seberang atau anak ketua kampung yang menghantar kuih saban petang!

Saya senang sekali membaca novel berketebalan 109 halaman ini. Tajuknya bukan sekadar membayangkan Ustaz Bagia sebagai penerus usaha dakwah datuknya, tetapi Rahimidin mengingatkan kita kepada barisan ulama-ulama ulung di Kepulauan Melayu ini seperti Hamzah Fansuri, Abdul Samad Al-Palembangi, Abdul Rauf Singkel, Shamsuddin Al-Sumatrani sebagai pewaris dakwah Rasulullah SAW. Saya juga bahagia apabila Rahimidin menyelitkan kisah-kisah cabaran yang dihadapi tokoh-tokoh ulama di Kelantan seperti Mutfi Haji Wan Musa.

Saya menjadi kagum, dengan novel yang terbit ketika saya masih di bangku sekolah rendah ini. Jikalau benar Sastera Islami itu satu genre, maka saya kira novel ini layak dilabelkan sebagai salah satu contoh karya Islami yang baik.

Cuma saya tertanya, siapa pula bakal menjadi 'pewaris' Rahimidin Zahari?

Cerpen "Kerana Aku Seorang Perempuan" dalam Majalah Harmoni 15-31 Jan 2012



Alhamdulillah, cerpen "Kerana Aku Seorang Perempuan" disiarkan majalah Harmoni edisi 15 - 31 Jan 2012, sekaligus menjadikannya karya pertama di media tahun ini.

Cerpen ini saya tulis lama dulu, barangkali empat, lima tahun lepas. Ketika itu saya feminis mentah, dan banyak perkara yang saya persoalkan. Namun secara dasarnya, prinsip saya terhadap kedudukan wanita ketika itu tentunya berpandukan Islam.

Cerpen ini pendek dan ringkas - saya pun tidak ingat lagi di mana mula-mula karya ini ditulis. Tetapi jika tidak salah titik akhirnya di Mines Park, tempat tinggal saya selama tiga tahun pertama di Amerika. Latarnya sengaja dikaburkan, kerana saya kira persoalan seperti ini merentas latar tempat, waktu dan warna kulit.

Selamat membaca, semoga cerpen kerdil ini bermanfaat.

Pengarang Bipolar

Benarkah pengarang itu bipolar sifatnya?
Benarkah seseorang pengarang itu bisa menyembunyikan dirinya yang sebenar daripada terpamer dalam karya-karyanya?
Jika ya, apakah takrif kejujuran dalam berkarya?

Saya tidak tahu sama ada mahu kecewa atau berlapang dada, apabila sikap bipolar pengarang dekat dan jauh semakin jelas pada pandangan dan pengetahuan saya. Argh, saya fikir saya juga pernah (atau masih?) begitu. Saya terkesan kerana ada pengarang yang kepura-puraannya jelas melalui makalah, tulisan di blog mahu pun karya-karya sasteranya sendiri.

Tetapi saya juga keliru - mengapa harus yang dicakapkan lain, yang ditulis dan dipersembahkan atas nama pengarang pula lain? Tidakkah pengarang yang baik asalnya insan yang baik. Dan insan yang baik, pada saya, haruslah seorang manusia yang jujur.

Saya mendengar rakaman podcast In Our Time terbitan Radio 4 BBC tentang penyair-penyair Inggeris aliran Romantis tempoh hari. Tertarik dengan Percy Bysshe Shelley dan kebetulan beberapa hari kemudian membelek buku Intellectuals (Paul Johnson) di rak, lantas memutuskan untuk membaca bab tentang penyair berketurunan aristokrat itu.

Shelley penyair bipolar.

Dia mementingkan diri sendiri, tetapi melalui puisi-puisinya serta pegangan politiknya, menyeru tentang kesamarataan dan kebebasan, tentang keadilan dan cinta. Namun, apabila sesuatu perkara tidak menyebelahinya, dia tidak bertangguh melampias amarah tanpa memikirkan perasaan, atau situasi orang lain.

Argh. 

Kesannya, saya meragui keikhlasan Shelley tatkala bertemu puisi Love's Philosophy dalam kompilasi puisi pilihan Caroline Kennedy (She Walks in Beauty), terutamanya baris-baris berikut:

Nothing in the world is single;
All things by a law divine
In another's being mingle--
Why not I with thine?

Jika kita tahu tentang tabiat hidung belang Shelley, kita tahu puisi ini barangkali bukan sahaja diinspirasikan bekas isterinya Harriet, tetapi juga isterinya yang kedua Mary Shelley (si penulis Frankenstein itu), tetapi juga Claire Clairmont dan ramai lagi.

Oh, semoga kita, yang tidak menghadapi masalah seperti Shelley dan pengarang-pengarang yang lain tradisi sasteranya, tidak begitu!

On PPSMI: Many Opted for BM

An excerpt from my letter on PPSMI (Many Opted for BM); published in today's New Straits Times:

"Deserving attention should be given to students' performances in other subjects as well, such as Bahasa Malaysia, History as well as Islamic and Moral studies.

It seems like these non-technical subjects are being neglected in our fascination with Science and Mathematics, hence sending the message that to be "successful" means excelling in the technical subjects only.
"


May it be beneficial.

Apart from that, inshaallah, this coming Sunday (Jan 15), Dialog Orang Muda (DOM) will be discussing the same topic. The title of the forum is "PPSMI: Kita Tewas?"

The panelists are Dr Mohammad Alinor from Akademi Sains Islam Malaysia (ASASI), Imran Mustafa (Himpunan Keilmuan Muslim (HAKIM)) and Ng Yap Hwa (Pusat Pengembangan Kebudayaan LLG). It will be moderated by Arif Atan (Akademi Pengajian Melayu, UM).


Falsafah dan Sastera

“Konsep kesusasteraan itu sebenarnya harus direnungkan sebagai merangkum tulisan yang meliputi bidang kebudayaan termasuk hasil agama, falsafah, sejarah, hukum dan undang-undang serta adapt-adat istiadat, kesenian; ia menjelaskan sifatnya dalam mitos, dongeng, hikayat, baikpun dalam bentuk epik, roman atau lain-lain lagi; dalam prosa dan puisi dan tentu juga memasuki bidang-bidang pemikiran politik dan pendidikan – pendek kata ia meliputi bidang-bidang ilmiah yang dikaji dalam rangka ilmu-ilmu kemanusiaan dan kemasyarakatan. Kesusasteraan itu mencerminkan tamadun, yang merupakan kehidupan intelek”. 
(Syed Muhammad Naguib al-Attas)

Melalui takrif kesusasteraan yang diperincikan oleh Prof. al-Attas, seharusnya pemisahan antara falsafah dan sastera tidak lagi menjadi isu. Ia sudah selesai. 

Di Barat sekali pun, di mana kesusasteraan berpaksikan estetika, ahli falsafah pernah diangkat memenangi Hadiah Nobel Kesusasteraan, seperti Bertrand Russell (1950) dan Jean-Paul Sartre (1964). 

Buku-Buku Yang Bakal Terbit Sempena PPMN III

Antologi Karya Sasterawan 2011 menghimpunkan karya-karya pengarang muda Malaysia mutakhir dalam genre cerpen, puisi dan fragmen novel.

Perjuangan Penulis Muda: Arah dan Cabaran merupakan buku prosiding makalah yang telah dibentangkan di PPMN II pada tahun 2009 di Ayer Keroh, Melaka.

Takah Lima Puluh - antologi puisi sempena ulang tahun PENA ke 50.

Akan terbit sempena PPMN III pada 16-18 Disember. Jangan terlepas mendapatkannya!

Perhimpunan Penulis Muda Nasional (PPMN) III: 16-18 Disember 2011

Dua musim telah berlalu sejak berlangsungnya PPMN II di Ayer Keroh, Melaka pada tahun 2009. Kini tibalah giliran PPMN III pula. Bertempat di Akademi Kenegaraan, inshaallah PPMN III akan berlangsung pada 16 - 18 Disember 2011. Pendaftaran terbuka dan keutamaan diberikan kepada para penulis muda berusia 40 tahun ke bawah. Sila ke sini untuk maklumat lanjut tentang pendaftaran, penginapan dan lain-lain.

Tema PPMN III ialah "Pengukuhan Makna Diri Pengarang Muda." Tentatif PPMN III adalah seperti di bawah:

16 Disember 2011 (Jumaat)
9.00 pagi - 3.00 petang:
Pendaftaran Peserta

4.00 - 5.00 petang:
Ucapan YM Raja Arif bin Raja Ali, Ketua Pengarah Biro Tatanegara

8.45 - 11.00 malam:
Perasmian oleh Dato' Seri Mohd Najib Tuan Abdul Razak, PM Malaysia (di Hotel Intercontinental, Jalan Ampang - sila daftar di sini)


17 Disember 2011 (Sabtu)
8.30 - 10.00 pagi:
Ucaptama "Pengarang Muda dan Makna Diri"
Oleh: Prof Datuk Dr Md Salleh Yaapar
Pengerusi: Dr Mohamad Saleeh Rahamad

10.00 - 10.20 pagi:
Jamuan pagi

10.20 pagi - 12.30 tgh hari:
Sesi Pembentangan Kertas Kerja I:
"Pengarang Muda di Tengah Cabaran Intelektual, Kreativiti dan Pertembungan Pandangan Alam" (lihat senarai panel di bawah)

12.30 tgh hari - 2.30 petang:
Makan tengah hari 
                                                                   
2.30 - 3.30 petang:
Sesi Pembentangan Kertas Kerja II:
"Tradisi dan Pengalaman Kepengarangan Islam Sebagai Teras Pemikiran dan Pengucapan" 
(lihat senarai panel di bawah)

3.30 - 3.45 petang:
Minum petang

3.45 - 5.15 petang:
Sesi Pembentangan Kertas Kerja III:
"Perkembangan Pengarang Muda Kontemporari: Antara Tanggungjawab Sosial dan Individu" (lihat senarai panel di bawah)

8.30 - 11.00 malam:
Malam Genta Puisi ASWARA - PENA


18 Disember 2011 (Ahad)
8.30 - 10.00 pagi:
Sesi Pembentangan Kertas Kerja IV:
"Pengarang Muda dan Faham Dasar Kebudayaan Kebangsaan"
(lihat senarai panel di bawah)

10.00 - 10.15 pagi:
Minum pagi

10.15 pagi - 11.45 tgh hari:
Sesi Pembentangan Kertas Kerja V:
"Perkembangan Pengarang Muda Mutakhir"
(lihat senarai panel di bawah)

11.45 pagi - 12.30 tgh hari:
Pembentangan Resolusi dan Majlis Penutup

12.30 tgh hari - 1.30 petang:
Makan tengah hari

1.30 petang:
Penangguhan PPMN III






Senarai Tema Makalah dan Pemakalah
Sesi Pembentangan Kertas Kerja I:
"Pengarang Muda di Tengah Cabaran Intelektual, Kreativiti dan Pertembungan Pandangan Alam"
                                           
Panel:
1. Syed Mohd Zakir Syed Othman (PENA)

2. Dr Awang Azman Awang Pawi (UNIMAS)

3. Dr Mohd Zariat Abdul Rani (UPM)
[Materialisme, Islam dan Nilai Kesasteraan: Satu Penelitian Terhadap Novel-novel Popular Islami Terbitan PTS Sdn. Bhd. Berdasarkan PersuratanBaru]

4. Nisah Haji Haron (UKM)
[Dasar Kebudayaan Kebangsaan: Penulis Muda Mencari Locus Standi]

Sesi Pembentangan Kertas Kerja II:
"Tradisi dan Pengalaman Kepengarangan Islam Sebagai Teras Pemikiran dan Pengucapan"

Panel:
1. Muhammad Zarif Hassan
[Kepengarangan Muda: Mencari Sinar Tradisi Kembali]

2. Dr Kamariah Kamarudin (UPM)
[Risalah Tarbiah Dalam Tradisi dan Pengalaman Kepengarangan Islam Sebagai Teras Pemikiran Dan Pengucapan: Penelitian Terhadap Pengarang Muslimah Mutakhir Pilihan]

3. Zaid Akhtar
[Menelusuri Diaspora PenulisTimur Tengah]

4. Sailfullizan Yahaya (DBP)

Moderator: Salman Sulaiman

Sesi Pembentangan Kertas Kerja III:
"Perkembangan Pengarang Muda Kontemporari: Antara Tanggungjawab Sosial dan Individu"

Panel:
1. Mohd Ali Salim (PEKASA)
[Mengangkat Tingkat Penulis: Satu Perspektif]

2. Ummu Hani Abu Hassan (UiTM)
[Tanggungjawab Penulis Menurut Perspektif Teori Proses Kreatif Dakwah]

3. Faridah Abdul Hamid (BAHASA)
[Dunia Kepengarangan Penulis Muda Kontemporari: Antara Kesungguhan Dan Pertanggungjawaban]

4. Muhammad Lutfi Ishak (PENA)
[Pengarang Sedar: Antara Tanggungjawab Individu dan Sosial]

Moderator: Rebecca Ilham

Sesi Pembentangan Kertas Kerja IV:
"Pengarang Muda dan Faham Dasar Kebudayaan Kebangsaan"

Panel:
1. Mohd Arif Atan (UM)

2. Mohd Hilmi Ramli (HAKIM)
[Pengarang Muda dan Faham Dasar Kebudayaan Kebangsaan]

3. Dr. Mohd Faizal Musa (ATMA, UKM)
[Hegemoni Budaya, Nasib Minoriti & Peranan Pengarang Muda]

Moderator: Mohd Ali Atan

Sesi Pembentangan Kertas Kerja V:
"Perkembangan Pengarang Muda Mutakhir"

Panel:
1. Mohd Jaafar Hamdan (DBP Sarawak)
[Perkembangan Karya Pengarang Muda Mutakhir Sarawak dan Sabah Sepintas Lalu]

2. Dr Mohd Hanafi Ibrahim (DBP)

3. Shamsudin Othman (UPM)
[Jurang Yang Berjungkir Balik: Antara Kesegaran Muatan Puisi Atau Idealis Angkatan-21?]

4. Ariff Mohamad (UPSI)
[Cabaran Naratif Melayu Baharu Generasi Milenium]

Moderator: Rita Robert Rawantas


Sebarang pertanyaan lanjut tentang PPMN III sila ajukan kepada Sdr Muhammad Lutfi Ishak (lutfi_ishak@yahoo.com), Sdr Ariff Mohamad (arifmohamad@gmail.com), Sdr Rebecca Ilham (beckyilham@yahoo.com) dan/atau Sdr Hani Salwah (haniesalwah@gmail.com).

Semoga bertemu di PPMN III nanti!

Peta lokasi PPMN III