Jun 13, 2010

Geraldine Brooks dan Helen Thomas

Sudah beberapa minggu saya "tanpa" buku - membaca, tetapi tidak khusyuk kerana yang dibaca bukan "soulmate." Beberapa perkara yang berlaku dalam beberapa minggu ini kemudiannya melorongkan saya kembali kepada novel yang dibaca ketika Gaza ditabrak bom fosforus dan artileri Israel pada akhir tahun 2008 / awal tahun 2009 yang lalu - People of the Book karya Geraldine Brooks.

Sebagai latar, Brooks merupakan seorang jurnalis yang juga penulis kreatif. Beliau berasal dari Australia tetapi pernah bertugas sebagai koresponden untuk The Wall Street Journal di Timur Tengah, benua Afrika dan rantau Balkan. Sebuah bukunya yang berkonsep new jurnalism - Nine Parts of Desire: The Hidden World of Islamic Women - merupakan kupasan provokatif tentang wanita Islam serta wanita dalam Islam yang baik. Brooks juga merupakan seorang Jewish-convert, apabila mengahwini pengarang Tony Horwitz pada tahun 1984. Dengan latar yang rencam, maka tidak hairanlah jika Brooks menulis People of the Book, sebuah naskhah fiksyen kreatif yang menekankan toleransi agama dan hubungan multi-etnik.

Saya belum habis mengulang baca, namun ada beberapa perenggan di bab kedua yang menarik perhatian. Ia merupakan sebahagian daripada inti perdebatan antara dua pemuda Yahudi yang berbeda ideologi pada tahun 1940 dari kaca mata seorang gadis bernama Lola.


Isak pushed his wire-rimmed glasses up the bridge of his nose.

"Maybe what you say is true for Jews in Germany. We all hear troubling news from there. But not here. Anti-Semitism has never been part of our lives in Sarajevo. Look at where the synagogue is: between the mosque and the Orthodox church. I'm sorry, but Palestine is the Arabs' home, not yours. Certainly not mine. We are Europeans. Why turn our backs on a countrythat has offered us prosperity and education, in order to become a peasant among people who don't want us?"

"So you're happy to be a pigeon?" Mordechai said this with a smile, but his intention to belittle Isak was clear, even to Lola. Isak pinched the bridge of his nose and scratched his head.

"Maybe so. But at least the pigeon does not harm. The hawk lives at the expense of other creatures that dwell in the desert."

[hlm. 50]


Perenggan-perenggan ini saya kira molek sekali diladeni bersama rakaman mouth lashing oleh Helen Thomas, bekas wartawan White House minggu lalu.

0 komentar: